MATASULUT.Com_Sulawesi Utara dan Maluku memiliki karakteristik wilayah kepulauan dan pesisir yang kuat dengan kekayaan laut tinggi. Sulawesi Utara dicirikan oleh bentang alam gunung berapi, semenanjung memanjang, dan perbatasan internasional, sementara Maluku didominasi wilayah perairan (93%) yang luas, pulau-pulau kecil, dan posisi strategis di perairan Banda-Maluku.
(22/04/2026)
Dengan terdiri dari 16 Gunung Api dan Gerakan tanah/longsor di Wilayah Sulawesi-Maluku perlu dipantau ketat 24 jam oleh Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi-Maluku.
Terkait pemantauan di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi-Maluku, Debby Rumambi memilki tugas vital dalam pemantauan 16 gunung api aktif di wilayahnya.
Di ketahui gunung api yang ada adalah Gunung Awu, Karangetang, Ruang, Tangkoko, Lokon, Mahawu, Soputan, Ambang, Colo, Gamalama, Kie Besi, Gamkonora, Ibu, Dukono, Banda Api dan Wurlali. Data kegempaan, deformasi, geokimia, hingga gas vulkanik dianalisis setiap hari untuk menentukan tingkat aktivitas: Normal, Waspada, Siaga, atau Awas.
Tugas utama pemantauan adalah memastikan setiap potensi daerah rawan sehingga mitigasi di perlukan.
Sementara itu menurut Kepala Balai Pemantauan Gunungapi dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah (PGMGBT) Sulawesi dan Maluku Juliana Doris Jane Rumambi, S.T.
“Begitu ada peningkatan aktivitas, kami wajib secara cepat menyampaikan laporan ke PVMBG Bandung untuk dievaluasi untuk perlu tidaknya peningkatan status atau perubahan rekomendasi teknis sebagai langkah mitigasi. Selain itu Balai mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dengan stakeholder yaitu Pemerintah Daerah, masyarakat dan media. Rekomendasi harus disampaikan secara cepat dan tepat terlambat,” jelas Rumambi, Kepala Balai PGMGBT Sulawesi-Maluku, Selasa (21/04/26).
Tak hanya gunung api, Balai ini juga melakukan upaya mitigasi pada daerah yang berpotensi terjadinya/rawan bencana gerakan tanah/longsor. Hasilnya jadi dasar penyusunan peta KRB (Kawasan Rawan Bencana) untuk tata ruang, jalur evakuasi, hingga rekomendasi relokasi warga di zona bahaya.
Saat kondisi darurat, Kepala Balai langsung memimpin tim Tanggap Darurat dan berkoordinasi dengan BPBD, TNI/Polri, BMKG, serta Pemda. Ia juga bertindak sebagai juru bicara resmi ke media dan masyarakat. “Intinya kami penjaga gawang. Data harus akurat, rekomendasi harus cepat, tujuannya warga selamat,” tegasnya.
Selain teknis, balai ini rutin melakukan desiminasi informasi /sosialisasi mitigasi bencana geologi ke Pemerintah Daerah, sekolah dan masyarakat di daerah rawan, sekaligus membina pos-pos pengamat gunung api yang tersebar di Sulawesi dan Maluku. (Hemsi)